Just another WordPress.com site

KARYA ILMIAH

Karya ilmiah adalah karya tulis yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman ilmiah yang ditetapkan. Pedoman penulisan karya ilmiah ini memberikan petunjuk tentang cara menulis karya ilmiah yang berupa skripsi,tesis,disertasi,artikel,makalah,dan laporan penulisan.

Yang dimaksud skripsi,tesis dan disertasi adalah jenis penelitian yang berorientasi pada pengumpulan data empiris di lapangan.

SKRIPSI,TESIS DAN DISERTASI

skripsi,tesis dan disertasi merupatukan karya ilmiah dalam suati bidang studi yang di isi oleh mahasiswa program sarjana (S1), (S2) dan (S3) pada akhir studi.

Perbedaan antara skripsi,tesis dan disertasi dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek kuantitatif dan aspek kualitatif. Dari aspek kuantitatif secara linier dapat dikat bahwa disertasi lebih berat bobot akademiknya daripada tesis dan tesis lebih berat akademisnya daripada skripsi.

Aspek-aspek yang membedakan skripsi,tesis dan disertasi adalah:

1.      Aspek Permasalahan

2.      Aspek Kajian Pustaka

3.      Aspek Metodologi Penelitian

4.      Aspek Hasil Penelitian

5.      Aspek Kemandirian

 

ARTIKEL, MAKALAH, DAN LAPORAN PENELITIAN

Artikel Ilmiah adalah karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal atau buku kumpulan artikel yang ditulis dengn cara ilmiah dan mengikuti pedoman ilmiah yang telah dispakati.makalah karya tulis yang memuat pemikiran tentang suatau masalah atau topik tertentu yang ditulis secara sistematis dan runtut dengan disertai analisis yang logis dan objektif.

Laporan Penelitian adalah karya tulis yang berisi paparan tentang proses dan hasil-hasil yang diperoleh dari suatu kegiatan penelitian.

Kriteria Tes

Untuk mengukur (mengumpulkan data) hasil belajar siswa dalam pendidikan jasmani diperlukan berbagai macam teknik pengukuran dan instrumen tes yang memenuhi kriteria instrumen penilaian yang baik.

Teknik pengumpulan data yang dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa antara lain teknik tes dan teknik nontes. Teknik tes dapat berupa berbagai macam instrumen tes keterampilan olahraga dan instrumen tes pengetahuan. Sedangkan teknik nontes (teknik pengumpuldata bukan tes) yang dapat di-gunakan antara lain instrumen angket (questioner), pengamatan (observation), wawancara (interview), skala penilaian (rating  scale), daftar cek (ceck list), anekdota, sosiometri, studi  kasus dan  catatan kumulatif (cumulative record).

Kriteria tes dan instrumen yang baik pada umumnya harus memenuhi tingkat kesahihan (validitas), keterandalan  (reliabilitas), dan obyektifitas. (Kirkendal, Gruber dan Johnson: 1980).

Pemilihan tes dan instrumen yang digunakan untuk mengumpul-kan  data  tentang hasil belajar siswa harus disesuaikan dengan tujuan penilaian dan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. (Budiwanto: 2001).

Dalam  melaksanakan evaluasi  hasil belajar pendidikan jasmani diperlukan kemampuan tenaga pengajar, antara lain kemampuan menyusun tes hasil  belajar mahasiswa. Secara umum kemampuan menyusun tes tersebut  meliputi beberapa hal:

1)      Penyusun tes harus  memiliki  kemampuan dalam hal penguasaan materi pengajaran. Terutama materi pengajaran yang akan dituangkan  dalam item-item  tes  yang akan disusun. Hal ini berkaitan dengan tuntutan validitas kurikuler,

2)      Penyusun tes harus menguasai teknik-teknik  penyusunan tes, baik tes tertulis maupun tes keterampilan; dengan tujuan agar tes yang disusun mampu mengungkap informasi yang mendekati kenyataan,

3)      Penyusun tes harus memiliki kemampuan merumuskan kalimat pertanyaan dalam  item tes dengan baik dan benar.

Evaluasi yang dilakukan harus berorientasi pada tujuan-tujuan instruksional (instrucsional  effect) yang  telah ditetapkan dan juga  tujuan-tujuan pengiring (nurturent effect) lainnya. (Rakajoni: 1981).

Berdasarkan tujuan-tujuan  tersebut maka evaluasi hasil belajar siswa mempunyai beberapa tujuan dan fungsi. Perlu diketahui bahwa tidak semua tingkatan sekolah telah memiliki berbagai jenis tes yang valid dan reliabel untuk mengkur keterampilan siswa dalam berbagai cabang olahraga. Jika belum ada, maka tes keterampilan  olahraga  tersebut perlu  dibuat. Berikut ini dibahas tentang kriteria tes yang baik dan langkah-langkah pembuatan tes ketrampilan olahraga (Rakajoni:1984).

Dalam melaksanakan kegiatan penilaian diawali dengan kegiatan pengukuran menggunakan alat ukur atau tes. Alat ukur atau tes yang digunakan harus memenuhi kriteria tes yang baik. Secara umum, kriteria alat ukur atau tes yang  baik antara lain harus mempunyai tingkat validitas dan reliabilitas yang meyakinkan.

Validitas diartikan sebagai tingkat ketepatan mengukur sesuatu yang seharusnya diukur. Reliabilitas diartikan tingkat keterandalan alat ukur atau tes. Bukti tentang tingkat validitas dan reliabilitas suatu alat ukur atau tes sangat penting dalam proses penilaian hasil belajar siswa. Sehingga proses penilaian yang dilakukan dapat diyakini ketepatan dan keterandalannya, karena  menggunakan alat ukur atau tes yang tepat dan dapat diandalkan. Selain itu, obyektifitas dari alat ukur yang akan digunakan untuk melakukan pengukuran adalah kriteria yang harus menjadi perhatian berikutnya (Budiwanto: 2001).

Menurut Pudjiono (1989), ada beberapa syarat tentang alat evaluasi yang baik, yang digunakan dalam pendidikan jasmani:

1)      Harus dapat menunjukkan dengan jelas apa yang akan dievaluasi,

2)      Hasil evaluasi harus representatif dalam menggambarkan keadaan mahasiswa,

3)      Menggunakan alat ukur atau tes yang memenuhi syarat validitas (kesahihan), reliabilitas (keterandalan) dan obyektifitas,

4)      Hasil pengukuran karakteristik yang akan dievaluasi  diolah  secermat-cermatnya,

5)      Berdasarkan pada suatu kriteria atau norma tertentu

Validitas.

Validitas atau kesahihan alat ukur berhubungan dengan ketepatan  mengukur sesuatu  yang seharusnya  diukur. Selain itu, validitas menunjukkan tingkat kevalidan  atau kesahihan  suatu alat ukur  atau instrumen.  Suatu alat  ukur yang valid atau sahih  berarti alat  ukur tersebut tepat  untuk mengukur sesuatu  yang seharusnya diukur. (Kirkendal, Gruber dan Johnson: 1980).

Suatu instrumen pengumpul data yang valid berarti instrumen tersebut dapat mengungkap informasi suatu variabel yang sedang dikumpulkan.  Tujuan penggunaan suatu alat ukur merupakan faktor yang menentukan validitas alat ukur. Tes yang sudah baku (terstandar) digunakan untuk mengukur hasil belajar keterampilan olahraga siswa di sekolah mungkin tidak valid untuk mengukur keterampilan atlit yang akan mengikuti kejuaraan atau perlombaan. Perbedaan tujuan penggunaan  tes tentu memerlukan validitas yang berbeda pula.

Validitas Isi

Penggunaan tes atau alat ukur dalam proses belajar mengajar biasanya  untuk menaksir  pencapaian hasil belajar siswa tentang kemampuan  pengetahuan atau keterampilan siswa. Yang paling baik, keseluruhan isi topik atau materi bahasan dituangkan ke dalam tes tersebut. Tetapi hal tersebut mungkin akan sulit dilakukan.

Pada umumnya cara menaksir pencapaian hasil belajar siswa adalah  mengambil sampel dari keseluruhan isi topik atau materi bahasan. Oleh karena itu sampel tersebut harus  mewakili keseluruhan isi. Dengan  kata lain, hasil yang diperoleh berdasarkan sampel tersebut  harus mencerminkan keseluruhan isi yang dikehendaki, sehingga sampel harus valid. Hal ini merupakan masalah validitas isi.

Prosedur tersebut diawali dengan menyusun suatu kerangka atau kisi-kisi topik atau materi bahasan. Dalam kisi-kisi mencakup keseluruhan isi bidang  studi dan  aspek-aspek yang akan diukur dilengkapi dengan katagori pentingnya setiap topik. Berdasarkan kisi-kisi tersebut dikembangkan butir-butir materi tes. Selanjutnya secara acak diambil sampel butir-butir tes dalam jumlah yang sesuai dengan bobot katagori setiap topik dari keseluruhan isi (Kirkendal, Gruber dan Johnson: 1980).

Pada dasarnya validitas isi diperoleh berdasarkan pertimbangan subyektif, secara teliti dan kritis terhadap butir-butir tes yang secara logis dapat mewakili keseluruhan isi tes yang dikehendaki dan diperkirakan sesuai dengan tujuan pengukuran.  Maka suatu alat ukur atau tes harus memiliki validitas logis. Selain itu, pertimbangan isi dan tujuan yang akan diukur, suatu  tes harus  mencerminkan dan sesuai  dengan materi pengajaran dan tujuan pengajaran yang dinyatakan dalam pedoman kurikulum atau silabus. Dengan demikian suatu alat ukur atau tes harus memenuhi validitas kurikulum.

Dalam menyusun tes keterampilan olahraga dalam pendidikan jasmani, validitas isi diperoleh  melalui analisis keterampilan-keterampilan yang akan di ukur dan dijadikan butir tes. Butir tes tunggal atau tes berangkai keterampilan olahraga dalam pendidikan jasmani biasanya digunakan untuk menentukan keterampilan umum dalam suatu cabang olahraga. Untuk  menentukan butir-butir tes keterampilan olahraga yang akan diukur harus dilakukan secara cermat, teliti, dan kritis dengan berdasar pada pertimbangan-pertimbangan yang logis. Selain itu, tes keterampilan olahraga tersebut harus sesuai dengan materi dan tujuan pendidikan yang dinyatakan  dalam pedoman  kurikulum  pendidikan jasmani.

 

Validitas Konstruk

Konstruk adalah kerangka dari suatu konsep. Untuk mengukur suatu konsep, maka harus dilakukan identifikasi lebih dahulu kerangka yang membentuk konsep tersebut. Dengan mengetahui kerangka tersebut maka dapat disusun suatu tolok ukur secara operasional konsep tersebut.

Thomas dan Nelson (1990) menjelaskan bahwa banyak karakter manusia yang tidak diamati secara langsung. Sebaiknya, dibentuk hipotesis yang memuat sejumlah pengertian yang berkaitan bagaimana sifat seseorang pada kelompok tingkat tinggi dibanding dengan sifat seseorang pada kelompok yang rendah. Kecemasan, intelegensi, sportmanship, kreatifitas dan sikap adalah sedikit dari hipotetik konstruk. Validitas konstruk adalah tingkatan suatu tes mengukur konstruk secara hipotetis dan biasanya ditetapkan dengan menghubungkan hasil tes dengan beberapa perilaku.

Kirkendal, Gruber dan Johnson (1980) menjelaskan bahwa secara umum ada tiga teknik yang digunakan untuk menentukan validitas konstruk, yaitu analisis faktor, regresi ganda dari tes berangkai, dan menguji perbedaan dengan kelompok lain. Untuk menentukan validitas konstruk digunakan analisis faktor, ditetapkan suatu konstruk atau struktur teoritis tentang fenomena diacu. Biasanya dengan melakukan penjabaran fenomena menjadi berbagai komponen. Beberapa butir tes disiapkan untuk masing-masing komponen dan dilakukan tes terhadap kelompok subyek. Suatu waktu butir-butir tes berangkai diarahkan untuk mengukur kemampuan yang rumit. Berikutnya ditetapkan kriterion yang sesuai, kemudian teknik regresi ganda digunakan untuk menentukan rangkaian konstruk yang cocok untuk mengukur fenomena. Cara berikutnya untuk menentukan validitas  konstruk yang juga mengacu pada concurrent validity. Diberikan dua tes yang berbeda terhadap kelompok yang berbeda. Beberapa tes olahraga ditentukan validitas konstruknya melalui pem-bandingan dua kelompok.

Verducci (1980) mengemukakan bahwa suatu kunstruk adalah suatu gagasan teoritis yang menerangkan dan mengatur beberapa aspek keberadaan pengetahuan. Di bidang lain, konstruk meliputi gagasan seperti inteligensi, sikap, kesiapan, dan kecemasan; dalam pendidikan jasmani istilah kesegaran jasmani diklasifikasi sebagai suatu konstruk. Validitas konstruk dapat ditentukan dengan pertimbangan secara luas berdasarkan logika dan stitistika data yang mendukung konstruk.

 

Validitas Kriteria

Validitas kriteria diperoleh dengan cara  menghubungkan antara alat ukur  atau tes sebagai prediktor dengan suatu kriteria luar. Perhatian yang utama untuk jenis validitas ini adalah  kriterianya, bukan  pada alat  ukur atau  tes itu sendiri.   Pendekatan empiris digunakan  untuk  menganalisis hubungan antara  alat ukur atau tes dengan kriteria. Meng-identifikasi kriteria yang akan digunakan  merupakan  hal yang penting. Suatu kriteria yang akan digunakan harus memenuhi syarat dan memiliki  ciri-ciri yang dapat diyakini  mengukur sesuatu  yang seharusnya akan diukur. Ciri yang penting adalah kriteria tersebut harus mempunyai relevansi dan mencerminkan dengan tepat sesuatu yang akan diukur. Ciri kedua, suatu kriteria harus dapat diandalkan dan dapat dipercaya. Ciri yang lainnya, suatu kriteria diharapkan bebas dari bias. Skor pada suatu ukuran kriteria hendaknya tidak di-pengaruhi oleh aspek-aspek selain kemampuan atau penampilan yang sesungguhnya pada kriteria tersebut (Safrit: 1981).

Menurut Rakajoni (1975), ditinjau dari cara memperoleh kriteria pembanding, dibedakan menjadi validitas acuan kriteria (criterion referenced validity) dan validitas acuan kelompok (group referenced validity). Pada validitas acuan kriteria, kriteria ditetapkan lebih dahulu yang ditetapkan berdasarkan tujuan pengajaran. Sedangkan validitas acuan kelompok, kriteria ditentukan berdasarkan prestasi kelompok.

Dilihat dari segi waktu diperolehnya kriteria pembanding, dibedakan validitas ramalan (predictive validity) dan validitas pembanding bersamaan (concurrent validity). Nurkancana dan Sumartana (1986) menjelaskan bahwa validitas ramalan adalah ketepatan suatu tes ditinjau dari kemampuan  meramalkan prestasi yang dicapai pada waktu yang akan datang. Dengan demikian, kriteria pembanding diperoleh beberapa waktu berselang setelah tes dilaksanakan. Sedangkan validitas pembanding bersamaan adalah ketepatan suatu tes dilihat dari korelasinya dengan kemampuan yang telah dimiliki saat bersamaan secara riil. Jadi kriteria pembanding diperoleh pada waktu yang sama atau hampir bersamaan.

Teknik analisis untuk menghubungkan skor kriteria dengan skor tes  predik-tor digunakan teknik  statistik korelasional. Oleh karena dalam proses analisis  untuk memperoleh validitas kriteria ini menggunakan teknik-teknik statistik  maka disebut validitas statistik. Satuan tingkat hubungan akan dinyatakan dengan koefisien validitas.  Rentangan  koefisien validitas antara -1 sampai dengan +1. Tentang besarnya koefisien validitas suatu tes agar dapat digunakan sesuai dengan tujuan, Kirkendal, Gruber dan Johnson (1980) memberikan petunjuk sebagai berikut:

Excellent 0,80 – 1.00

High 0,70 – 0,79

Average or Fair 0,50 – 0,69

Unacceptable 0,00 – 0,49

 

Dalam penyusunan suatu tes keterampilan olahraga, ada tiga cara memperoleh validitas yang dihubungkan dengan kriteria. Cara pertama,  menggunakan hasil tes standard atau tes yang sudah dibakukan sebagai kriterion.  Validitas kriteria diperoleh dengan cara mengkorelasikan antara skor hasil tes menggunakan  tes eksperimen (prediktor) dengan skor hasil tes menggunakan tes standard (kriterion).  Jika hasil analisis diperoleh koefisien korelasi yang tinggi maka berarti ada hubungan antara tes eksperimen (prediktor) dengan tes standard. Berarti pula bahwa testi yang mempunyai skor yang baik dari hasil tes kriterion, akan diduga memperoleh skor yang baik pula pada hasil tes prediktor. Contoh:  Brady Volley Test merupakan tes standar bola voli digunakan sebagai kriterion untuk memperoleh validitas kriteria suatu tes keterampilan eksperimen bola voli (Budiwanto: 2001). Cara kedua, sebagai kriterion adalah hasil penilaian para juri (judges rating). Tiga sampai dengan lima juri melakukan  pengamatan dan memberikan penilaian menggunakan skala penilaian pada waktu testi melakukan permainan. Kemudian skor hasil penilaian juri dikorelasikan dengan skor tes prediktor. Diharapkan, pemain yang baik akan mendapatkan skor yang baik dari penilaian para juri dan  mendapat skor baik pula dalam tes prediktor (Kirkendal, Gruber dan Johnson: 1980). Cara ketiga, menggunakan hasil pertandingan kompetisi sebagai kriteria. Pertandingan kompetisi dilakukan antar testi dalam kelompok sampel. Jumlah nilai menang setiap testi dari seluruh pertandingan merupakan kriterion  yang dikorelasikan dengan skor  tes prediktor. Testi yang banyak menang akan mendapat skor tinggi, diharapkan memperoleh  skor yang  tinggi pula  pada tes prediktor (Kirkendal, Gruber dan Johnson: 1980).

Reliabilitas

Tes dikatakan reliabel jika pengukuran menggunakan tes tersebut  diperoleh hasil yang tetap. Kirkendal, Gruber dan Johnson (1980) menjelaskan bahwa reliabilitas adalah tingkat ketetapan suatu tes mengukur apa yang seharusnya diukur. Lebih lanjut, reliabilitas mempunyai pengertian bahwa suatu  tes dapat diandalkan untuk mengumpulkan data. Dapat diandalkan berarti tes tersebut baik, sehingga dapat menghasilkan data yang benar sesuai dengan kenyataan.

Panjang  tes  mempunyai pengaruh  terhadap  reliabilitas. Yang dimaksud  panjang tes adalah jumlah pengetahuan, kemampuan atau keterampilan yang harus diukur, selain itu juga lama waktu  pelaksanaan.  Semakin  panjang  tes ada  kecenderungan semakin reliabel.

Derajad reliabilitas ditunjukkan dengan koefisien korelasi, rentangannya adalah antara -1 sampai dengan +1. Reliabilitas suatu tes ditentukan dengan menghitung koefisien korelasi. Tentang besarnya koefisien reliabilitas suatu tes agar dapat digunakan sesuai dengan tujuan, Kirkendal, Gruber dan Johnson (1980) memberikan petunjuk sebagai berikut:

Excellent 0,90 – 1.00

High 0,80 – 0,89

Average 0,60 – 0,79

Unacceptable 0,00 – 0,59

 

Ada beberapa teknik untuk menaksir reliabilitas suatu tes, yaitu teknik ulangan (test-retest), teknik setara dan teknik belah dua (Verducci: 1980). Jika reliabilitas tes diperoleh dengan  teknik ulangan (test-retest), maka hanya digunakan satu perangkat tes. Pelaksanaannya adalah dilakukan pengukuran pertama kemudian menyusul dilakukan  pengukuran kedua menggunakan tes yang  sama. Selanjutnya menghitung korelasi antara data hasil pengukuran pertama dengan data hasil pengukuran kedua. Hasil korelasi antara data pengukuran pertama dan kedua seringkali disebut juga  koefisien stabilitas.

Reliabilitas yang diperoleh dengan teknik setara harus dibuat dua perangkat tes. Kemudian dilakukan pengukuran menggunakan dua instrumen secara bergantian.. Selanjutnya menghitung korelasi antara hasil dua bentuk tes tersebut. Hasil korelasi antara dua bentuk tes tersebut pada dasarnya mempunyai tingkat  kesetaraan  (koefisien  ekuivalen). Menurut Thomas dan Nelson (1990) teknik ini disebut juga metode paralel atau metode bergantian.

Teknik yang lain untuk menaksir reliabilitas tes adalah teknik belah dua. Reliabilitas tes dengan cara belah dua diperoleh dari dalam test itu sendiri. Suatu tes diberikan kepada sekelompok test, kemudian skor-skor  tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua. Cara membelah dua  biasanya dilakukan dengan cara acak atau dengan cara mengelompokkan skor-skor percobaan nomor ganjil dan skor-skor percobaan nomor genap. Koefisien reliabilitas dengan cara belah dua diperoleh dengan melakukan analisis menggunakan teknik statistik  korelasi product moment. Setelah diperoleh koefisien reliabilitas separuh tes dilanjutkan menghitung koefisien reliabilitas tes seutuhnya menggunakan rumus Spearman-Brown Prophecy. Koefisien korelasi yang diperoleh merupakan koefisien reliabilitas yang mengukur konsistensi internal (Verducci: 1980).

Untuk memperoleh reliabilitas  tes keterampilan olahraga dengan cara belah  dua hanya digunakan jika jumlah percobaan tes terdiri dari beberapa kali yang memungkinkan untuk dibelah (dikelompokkan) menjadi dua kelompok.

Contoh: tes servis bola voli dilakulan sepuluh kali percobaan. Maka, ada sepuluh skor percobaan, dari percobaan pertama sampai dengan percobaan kesepuluh. Skor-skor tersebut dikelompokkan menjadi dua dilanjutkan menghitung  korelasi  antara belah pertama dan belah kedua. Kemudian dilanjutkan dengan  menghitung koefisien korelasi tes keseluruhan menggunakan rumus dari Spearman-Brown (Abdoellah: 1975).

Cara membelah menjadi dua kelompok dapat dilakukan dengan cara acak (random) yaitu menggunakan bilangan random atau cara undian. Dapat pula dilakukan dengan mengelompokkan skor-skor percobaan nomor ganjil dan nomor genap.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Konsentrasi atau pemusatan perhatian adalah pemikiran terhadap pelaksanaan suatu usaha setelah adanya kesiapan dan kematangan bertindak yang dilandasi oleh sifat – sifat kepribadian yang ideal. Sehubungan dengan ini, John M Chooper mengutarakan bahwa semakin tinggi tingkat pemusatan perhatian terhadap apa yang akan dilakukan, semakin tinggi pula hasil yang akan  dicapai.

Ada tiga lingkungan yang dapat mempengaruhi besar kecilnya konsentrasi para olahragawan dalam bertanding atau berlomba yaitu :

  1. Lingkungan Keluarga

Semua kejadian yang menimpa diri seorang olahragawan di dalam lingkungan keluarga pengaruhnya akan terbawa atau akan menjiwai tindakan-tindakan atau tingkah-laku di lapangan. Seperti lingkungan keluarga yang sedang mengalami kekalutan maupun lingkungan keluarga yang sedang memperoleh kebahagiaan.

Perbedaan tersebut terjadi akibat dari kejadian – kejadian yang baru saja dialami. Konsentrasi terpaksa terbagi, kadang – kadang seluruh konsentrasi terampas oleh kejadian – kejadian di dalam lingkungan keluarga.

Perbedaan-perbedaan terhadap tindakan atau tingkah laku di lapangan yang menyimpang dari biasanya, seperti penurunan prestasi, kurangnya ketelitian , tidak adanya usaha, dan sebagainya tidak boleh begitu saja kesalahannya dibebankan pada para olahragawan. Kalau sampai terjadi hal-hal  sepeti apa yang telah diuraikan di atas, seorang pelatih harus bersikap hati-hati.

  1. Lingkungan Sekolah

Dengan lingkungan kadua ini dimaksudkan tempat dimana olahragawan itu bertugas. Bagi yang masih sekolah harus diperhatikan sekolahnya, bagi yang bekerja juga harus diperhatikan keadaan lapangan kerjanya. Begitu pula yang tidak sekolah dan tidak bekerja yang diperhatikan adalah lingkungan pergaulan di luar keluarga dan lingkungan olahraga.

Misalnya, masa – masa ulangan / ujian menuntut curahan semua daya upaya kepada tugas – tugas sekolah tersebut. Akibatnya kalau juga dipaksakan untuk tetap berlatih dan bertanding kita harus dapat mengerti, jika hasilnya akan jauh berbeda dengan masa – masa dimana tidak ada tugas dari sekolah. Hhal itu harus dapat dipahami. Lagi pula  para olahragawan tidak dapat di tuntut untuk lebih banyak ditentukan oleh keberhasilan dalam menuntut pelajaran – pelajaran di sekolah.

Juga bagi olahragawan yang sudah bekerja, banyaknya persoalan dilingkungan tempat ia bekerja akan mempengaruhi pula pada diri mereka. Misalnya jika ia baru dimarahi oleh atasannya akan lain akibatnya dengan kalau ia baru mendapatkan pujian, hadiah dan sebagainya. Sedang bagi mereka yang sudah tidak sekolah dan tidak bekerja. Pengontrolannya, pencarian sebab – sebab yang dapat mengakibatkan timbulnya kelainan – kelainan kebiasaan akan lebih rumit lagi, karena daerah lingkungannya sangat luas. Namun demikian sebab – sebab yang dapat memberikan pengaruh – pengaruh dalam dunia olahraga harus dapat ditemukan, paling tidak diperkirakan alternative – alternative yang telah diperhitungkan sebagai pangkal duaga untuk mencari langkah – langkah perbaikan.

 

  1. Lingkungan Olahraga itu sendiri

Faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi para atlit dalam lingkungan olahraga, yaitu:

  • Faktor penonton
  • Faktor petugas termasuk di dalamnya para wasit pembantu wasit dan sebagainya
  • Faktor lawan
  • Faktor alat perlengkapan dan fasilitas
  • Faktor cuaca
  • Organisasi/sistim pertandingan
  • Hasil yang dicapai selama pertandingan

 

a)      Faktor Penonton

Massa penonton mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap konsentrasi, bahkan massa penonton dapat mempengaruhi daya juang para atlit sehingga akan berpengaruh pula terhadap pencapai prestasi.

Dalm suatu pertandingan dukungan dari massa penonton akan menggugah semangat untuk berusaha yang lebih. Sebaliknya tidak adanya dukungan massa penonton atau bahkan dimusuhinya oleh massa penonton. Dengan dilontarkannya kata – kata yang bersifat memperolok – olok akan berakibat turunnya semangat bertanding bahkan dapat menyebabkan olahragawan tidak dapat bertindak atas dasar pertimbangan – pertimbangan akal yang sehat. Semua tindakan – tindakannya akan banyak diwarnai oleh emosi, sehingga pengetrapan teknik ataupun taktik dalam pertandingan akan menjadi kacau. Terutama para atlit muda yang baru pertama kali terjun dalam arena pertandingan akan lebih banyak mengalami gangguan – gangguan yang diakibatkan oleh hadirnya massa penonton yang tidak memberikan dukungan.

 

Menurut  Max Wessel ada beberapa massa penonton yang dapat memberikan sumbangan – sumbangan positif ataupun negatif terhadap perkembangan-perkembangan dalam dunia olahraga, baik terhadap perkembangan-perkembangan kegiatannya maupun terhadap psyche para atlit/olahragawan, yaitu:

  • Massa Insiders
  • Massa yang senang akan kegiatan olahraga pada umumnya
  • Massa Supporters
  • Massa Penjudi
  • Massa Sensasi
  • Massa Absensi, dan
  • Massa Undangan

 

  • Massa Insiders

Insiders adalah para atlit itu sendiri, para wasit, jago kapuk dan coach. Berhubung mereka inilah yang langsung berkepentingan, lagi pula  sudah tahu akan peraturan-peraturan baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, maka diharapkan akan adanya sumbangan yang positif terhadap kelancaran pertandingan-pertandingan yang sedang dilangsungkan ataupun terhadapperkembangan-perkembangan cabang olahraga yang mereka ikuti. Sayangnya insiders ini jumlahnya sedikit kalau dibandingkan dengan massa penonton yang lain, sehingga kalau tidak ada pengertian atau kesadaran serta pengabdian, maka mereka akan terpengaruh oleh massa penonton yang lain. Kadang – kadang yang seharusnya massa insiders ini memberikan contoh – contoh yang baik, karena hasutan – hasutan massa penonton lain yang memberikan pengaruh – pengaruh negatif menjadi terjerat kearah hal – hal yang tidak diinginkan.

 

  • Massa penonton yang suka akan kegiatan-kegiatan Olahraga pada umumnya

Massa penonton yang termasuk dalam golongan ini adalah mereka yang gemar akan kegiatan-kegiatan olahraga pada umumnya. Artinya kegemarannya tidak terbatas pada salah satu yang sebenarnya, sehingga mereka akan senang kalau dalam pertandingan-pertandingn itu ada sportifitas, mutu pertandingan yang tinggi dan mereka hanya akan merasa puas bila menonton pertandingan-pertandingan yang sesuai dengan jiwa olahraga. Mereka dapat membedakan mutu pertandingan yang baik dan yang buruk. Sesuai dengan sifat – sifat yang dimiliki tersebut, maka golongan massa penonton ini akan memberikan sumbangan yang positif terhadap perkembangan – perkembangan psyche para olahragawan.

 

  • Massa Supporters

Massa supporters yang dimaksudkan adalah massa penonton yang akan menonton karena team kesayangannya akan bertanding. Mereka kadang-kadang tidak tahu menahu soal peraturan-peraturan dalam pertandingan-pertandingan, yang mereka lihat. Mereka melihat karena adanya ikatan-ikatan tertentu. Kadang – kadang supporters ini terlalu fanatik terhadap teamnya. Mereka ingin, bagaimanapun juga teamnya yang harus menang. Mereka selalu membela team yang dijagokannya serta tidak segan – segan melontarkan kata – kata yang menusuk perasaan pada anggota team lawan dengan maksud agar team lawan hilang konsentrasinya. Bahkan mereka tidak segan – segan menyerang wasit dengan kata – kata yang tidak menyenangkan, tidak segan – segan pula mereka melempari wasit kalau teamnya dirugikan. Bahkan mereka berani mengatakan “ out” meskipun nyata – nyata bola mengenai line waktu teamnya diserang. Karena sejak keberangkatan dari rumah massa supporters itu berpijak pada salah satu team kesayangannya, maka tidak mengherankan kalau mereka harus bertengkar dengan massa supporters lain yang akhirnya dapat mengacaukan pelaksanaan pertandingan – pertandingan. Bahkan tidak jarang pertandingan dibubarkan dengan terpaksa karena hal tersebut. Mengingat sifat-sifat yang dimiliki oleh massa supporters seperti yang telah diuraikan di atas, maka tidak mengherankan kalau mereka akan dapat pula memberikan pengaruh yang negatif.

Lebih – lebih jika massa supporters itu meliputi sebagian besar dari massa penonton, jadi wajarlah kalau pengaruhnya juga sangat kuat. Sering kita liat suatu team yang tadinya akan kalah setelah tambahnya supporters yang melihat, team tersebut menjadi tergugah semangatnya dan akhirnya mereka dapat memenangkan pertandingan. Jadi massa supporters ini hanya menyumbangkan bantuan yang positif terhadap team yang didukungnya. Sebaliknya mereka mengacaukan team lawan.

 

  • Massa Penjudi

Sesuai dengan namanya maka massa penonton yang termasuk dalam golongan ini adalah mereka yang dating kepertandingan untuk berjudi dengan bertaruh uang atau apa saja. Untuk memperjuangkan kemenangannya itu massa penjudi tidak segan-segan bermain curang. Bahkan ada yang berani “menyuap” wasit atau pemain dengan maksud supaya mereka mengalah, agar wasit mau bertindak demi kemenangan team yang mereka jagokan dan sebagainya. Dengan adanya kemungkinan-kemungkinan seperti ini, makamassa penjudi dengan sendirinya akan menjadikan pertandingan tidak bermutu.

Pada umumnya massa penjudi akan menjadi gelisah pada saat menjelang pertandingan berakhir. Terutama bagi mereka yang memilki tebakan yang sesuai, mereka menginginkan pertandingan cepat diselesaikan meskipun  waktunya belum habis. Sedangkan bagi mereka yang memiliki tebakan salah mereka berusaha mempengaruhi   wasit dengan berteriak – teriak dengan harapan wasit tidak segera membubarkan pertandingan meskipun waktunya telah hamper habis.

 

  • Massa Sensasi

Massa penonton yang termasuk dalam golongan ini terdiri dari mereka yang datang karena pertandingan untuk melihat hal – hal yang menghebohkan. Karena mengharapkan di dalam pertandingan tersebut terjadi hal – hal yang menggemparkan. Kalau bias dalam pertandingan sepak bola misalnya supaya ada yang cedera, seperti hidung berdarah, kepala kena sepatu dan sebagainya.

Massa tersebut kadang – kadang sama sekali tidak mengenal peraturan – peraturan permainan yang dilihatnya. Adapun yang mereka teriakan kadang – kadang menjadi sumber tertawaan dari massa penonton yang mengetahui peraturan – peraturan permainan. Tidak jarrang pula massa sensasi tidak henti – hentinya berteriak – teriak tanpa mengenal bagaimana suatu permainan itu dilakukan dan tanpa menghiraukan ketenangan massa penonton lainnya. Massa sensasi itu biasanya suka menonton pertunjukan – pertunjukan atau pertandingan – pertandingan yang sifatnya mendebarkan hati, seperti gulat professional, tinju, hell driver, dan sebagainya.Mereka ini senang apabila melihat atau menyaksikan pertandingan – pertandingan atau pertunjukan – pertunjukan yang berjalan secara sportif, artinya tidak menyebabkan cedera dan sebagainya.

Dengan kenyataan – kenyataan tersebut, maka sangatlah jelas kalau massa ini akan memberikan pengaruh negative para olahragawan ataupuncabang olahraga yang dilihatnya.

 

  • Massa Absensi

Massa ini mempunyai pendapat “pokoknya hadir”, jangan sampai melihat pertandingan – pertandingan tertentu yang mereka anggap penting. Biasanya hal ini mereka tempuh mungkin hanya untuk bahan cerita semata baik kepada tetangga maupun orang – orang sekampungnya, misalnya bahwa dia selalu melihat team luar negeri kalau bertanding di Jakarta, di Yogyakarta, dan sebagainya.

Kadang – kadang massa penonton ini tidak tahu soal peraturan – peraturan yang penting baginya ialah ia tidak ketinggalan dan pasti melihat. Hal demikian merupakan kebanggaan yang bias dipakai sebagai bahan cerita atau pamer dikampungnya atau dimana saja.

Massa ini jumlahnya sangat sedikit dan biasanya terdiri dari orang – orang kaya. Karena terlalu sedikit jumlahnya massa penonton absensi ini efeknya juga tidak terasa terhadap perkembangan olahraga. Mereka dating ke tempat – tempat pertandingan hanya untuk kepuasan diri pribadi saja.

 

  • Massa Undangan

Massa ini datang ke pertandingan karena fungsinya dalam masyarakat. Mereka diundang untuk menghadiri dan menyaksikan pertandingan. Keteraturan dan ketertiban pada waktu melihat adalah lebih baik kalau dibandingkan dengan massa – massa penonton lainnya.

Kalau diantara massa undangan ini ada tokoh masyarakat yang tinggi kedudukannya maka penjagaan terhadap keamanan dalam pertandingan pada umumnya akan lebih terjamin. Sehingga akan memberikan sumbangan yang positif  terhadap perkembangan olahraga ataupun para olahragawan.

 

Dengan melihat banyak ragamnya massa penonton ini, seorang pembina dalam dunia olahraga harus dapat menghindari efek – efek yang negatif yang dapat ditimbulkan oleh massa penonton tersebut. Para pelatih sebaiknya dapat memanfaatkan gemblengan – gemblengan mental yang diakibatkan oleh hadirnya massa penonton yang mempunyai bermacam perangai itu. Memang dengan adanya massa penonton yang mempunyai bermacam – macam itu olahragawan lebih dimatangkan, baik dalam penguasaan – penguasaan teknik dan taktiknya, maupun dalam pengendalian emosinya. Akibatnya para olahragawan tersebut akan betul – betul mantap baik jasmani maupun mental.

 

b)      Faktor Petugas termasuk di dalamnya para Wasit dan Pembantu Wasit

Petugas – petugas lapangan ikut mempengaruhi kelancaran jalannya pertandingan – pertandingan. Terutama wasit, memegang peran dalam hal ini. Kalau semuanya telah terpenuhi, maka wasitlah yang akan dapat menentukan apakah pertandingan itu akan berjalan lancer, mutu permainan berkembang atau malah sebaliknya pertandingan menjadi kacau mutu pertandingan menjadi tidak dapat dinikmati penonton bahkan kadang – kadang suatu pertandingan dapat bubar sebelumnya karena keputusan – keputusan yang keliru, tidak adil, akan mengganggu konsentrasi dan usaha para atlit untuk dapat bermain secara baik.

Apabila rasa tidak puas dalam diri atlit berlangsung terus – menerus, akan dapat menyebabkan semua tindakan – tindakan menjadi kacau. Sebaliknya bagi lawan yang merasa di untungkan akan lebih menambah usaha untuk berrmain lebih giat atas dasar pemikiran yang sehat. Akhirnya tidak jarang team yang merasa diuntungkan ini akan memenangkan pertandingan meskipun keadaan mereka sebenarnya relative lebih lemah, atau pada saat – saat kritis sebenarnya mereka sudah pada pihak yang kalah.

Memang sulit untuk begitu saja dapat menerima kesalahan – kesalahan yang diperbuat oleh para wasit, terutama bagi team – team yang merasa dirugikan. Kita semua mengetahui bahwa tugas seorang wasit adalah berat karena konsentrasi yang terus menerus harus dilakukan selama pertandingan. Kepayahan sangat mempengaruhi ketelitian bertindak. Makin ada kemungkinan wasit membuat kesalahan – kesalahan lebih – lebih kalau wasit sudah payah.

Dengan menyadari hal – hal tersebut diatas dapatlah dikurangi kedongkolan terhadap wasit yang membuat kesalahan – kesalahan.

 

c)      Faktor Lawan

Lawan dalam suatu pertandingan sangat mudah menimbulkan gangguan – gangguan pada alam pikiran para atlit muda. Kadang – kadang para olahragawan muda itu tidak bias tidur nyenyak selama menantikan datangnya saat pertandingan, dalam alam pikirannya selalu terbayang – bayang lawan yang akan dihadapi. Apalagi kalau dirasa lawan lebih kuat, akan berjangkit rasa putus asa dan dia sudah menyerah sebelum bertanding karena merasa “ saya pasti kalah”.

Sebaliknya kalau menghadapi lawan – lawan yang dianggap lebih lemah kadang – kadang akan terjangkit rasa over convidence yang menganggap bahwa “ saya pasti menang”, sehingga konsentrasi terhadap pertandingan juga akan berkurang. Akibatnya menjadi lengah, persiapan – persiapan tidak lagi dikerjakan sebaik – baiknya.

 

d)     Fasilitas Alat Perlengkapan dan Fasilitas.

Faktor alat perlengkapan dan fasilitas yang semula tidak mendatangkan problem – problem khusus, dengan adanya kemajuan – kemajuan pelaksanaan teknis pada saat sekarang ini, ternyata juga  ikut memegang peran yang menentukan terhadap keberhasilan suatu team atau individu dalam mencapai prestasi yang tinggi.

Sejak pertama kali latihan para olahragawan harus sudah dibiasakan memakai alat – alat yang sesuaidengan alat – alat yang dipakai dalam pertandingan yang sebenarnya. Karena kalau tidak, maka pasti akan diperlukan waktu adaptasi yang cukup lama, sehingga dalam besar dipusatkan kepada penyesuaian alat – alat yang dipakai.

Begitu pula sebaliknya bila alat – alat yang dipakai tidak memenuhi syarat – syarat yang harus dipenuhi maka juga akan menyebabkan ketidak puasan pada para olahragawan yang turut bertanding. Hal ini akan menimbulkan efek psikologis yang bermacam – macam. Seperti keengganan, kemarahan dan sebagainya, dan dengan sendirinya akan berpengaruh pula terhadap pengetrapan teknik – teknik yang telah dikuasai para olahragawan.

Begitu pula terbatasnya fasilitas – fasilitas yang tersedia akan mempengaruhi keadaan psyche para olahragawan yang akan bertanding. Maka dari itu dalam latihan – latihan, semua hal yang mungkin akan terjadi dalam pertandingan harus dipersiapkan, sehingga ketahanan pisik atau mental para olahragawan akan bertambah baik.

 

e)      Faktor Cuaca

Keadaan cuaca dimana pertandingan akan diadakan juga harus diperhatikan sehingga dalam waktu – waktu latihan sudah diadakan penyesuaiannya. Hal ini sangat penting agar para olahragawan tidak akan terkejut oleh cuaca setempat. Misalnya terlalu dingin, panas dan sebagainya.

Ingat bagaimana pelatih luar negeri dalam mempersiapkan para olahragawan untuk menghadapi cuaca di Mexico pada waktu Olympic Games yang ke – 19, di tempat – tempat pegunungan yang tinggi – tinggi sesuai dengan ketinggian Mexico, dimana pertandingan olahraga itu dilakukan.

 

f)       Organisasi Pertandingan.

Organisasi pertandingan ini juga akan mempengarui konsentrasi para atlit pada waktu menghadapi suatu pertandingan.

Katakan dalam suatu pertandingan dipakai sistim gugur. Hal ini sudah pasti akan memberikan efek psikologis yang berbeda – beda terhadap team – team yang kan ikut bertanding. Team yang lemah akan lebih gelisah daripada team yang lebih kuat. Begitu pula kalau yang dihadapi itu belum diketahui kekuatannya. Efek psikologis yang ditimbulkan oleh sistem gugur akan lain dengan efek psikologis yang ditimbulkan oleh sistem yang lain.Dalam menghadapi sistem kompetisi akan lebih tenteram daripada menghadapi sistem gugur, sebab dalam sistem gugur sekali kalah sudah tidak diperkenankan lagi mengikuti pertandingan – pertandingan berikutnya, sedang sistem kompetisi masih memungkinkan. Pada setengah kompetisi setiap team atau perorangan bertanding diberikan kesempatan untuk berhadapan dengan lawan – lawannya satu kali, sedang dalam sistim kompetisi penuh masing – masing lawan diberikan kesempatan untuk bertemu dua kali. Begitu pula jika sistem – sistem yang lain, selalu membawa konsekwensi – konsekwensi psikis bagi yang bertanding. Dengan sedikitnya kesempatan, efek psikologis yang terjadi terutama bagi team – team yang lemah akan lebih berat. Sedang kalau banyak kesempatan, maka team – team yang kuat kadang – kadang dapat saja dengan memasang team cadangannya, dengan memberikan w.o , kepada salah satu team dan sebagainya.

 

g)      Hasi Pertandingan

Hasil suatu pertandingan akan banyak pengaruhnya terhadap daya juang dalam pertandingan – pertandingan berikutnya.Di depan telah dijelaskan bahwa kegagalan yang terus menerus menimpa suatu team, atau keberhasilan akan dapat menambah daya juang atlit disamping juga dapat mengakibatkan over condifence.

Dalam mengikuti pertandingan – pertandingan yang diselenggarakan menurut sisti kompesisi misalnya, maka hasil – hasil pada hari pertama atau hasil daripada pertandingan – pertandingan yang telah dilakukan juga akan memberi pengaruh kepada psyche para olahragawan. Terutama pada hari – hari mendekati seleseinya suatu rentetan pertandingan yang harus dilakukan,tiap team atau perorangan yang ikut sudah saling dapat memperhitungkan hasil akhir dengan melihat kemenangan atau kekalahan yang telah diderita. Setelah team atau perorangan menentukan apakah hasil pertandingan berikutnya masih mempengaruhi kedudukan atau tidak. Kalau sudah jelas bahwa hasil pertandingan yang akan dilakukan itu justru akan menentukan statusnya dalam rentetan kejuaraan, maka timbul efek psykologis yang berat. Lebih – lebih kalau mereka sudah dapat memastikan diri kalah atau menang tetap nomor satu.

Tidak juga mengherankan pada saat – saat akhir pertandingan team yang kuat, yaitu team yang telah tidak dapat lagi dipengaruhi kedudukannya oleh hasil pertandingan berikutnya, dapat ikut mengemudikan urutan pemenang dibawahnya. Misalnya saja dengan memberi kesempatan kepada lawan yang dihadapi agar dia dapat kemenangan sehingga dengan demikian team atau perorangan tersebut dapat naik kedudukannya.

Dengan demikian, maka dengan sendirinya pihak pertama dalam hal menghadapi pertandingan itu dapat lebih tenang dan mantap dari team atau peroranganyang kedua. Demikianlah efek – efek psikologis yang dapat ditimbulkan oleh hasil – hasil pertandingan dan semua itu secara langsung atau tidak langsung juga akan mempengaruhi konsentrasi para olahragawan dalam pertandingan – pertandingan berikutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

Konsentrasi atau pemusatan perhatian adalah pemikiran terhadap pelaksanaan suatu usaha setelah adanya kesiapan dan kematangan bertindak yang dilandasi oleh sifat – sifat kepribadian yang ideal. Sehubungan dengan ini, John M Chooper mengutarakan bahwa semakin tinggi tingkat pemusatan perhatian terhadap apa yang akan dilakukan, semakin tinggi pula hasil yang akan  dicapai.

Ada tiga lingkungan yang dapat mempengaruhi besar kecilnya konsentrasi para olahragawan dalam bertanding atau berlomba yaitu :

  1. Lingkungan Keluarga
  2. Lingkungan Sekolah
  3. Lingkungan Olahraga itu sendiri

Faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi para atlit dalam lingkungan olahraga, yaitu:

ü  Faktor penonton

ü  Faktor petugas termasuk di dalamnya para wasit pembantu wasit dan sebagainya

ü  Faktor lawan

ü  Faktor alat perlengkapan dan fasilitas

ü  Faktor cuaca

ü  Organisasi/sistim pertandingan

ü  Hasil yang dicapai selama pertandingan

 

3.2 Saran – Saran

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Johannes, Uray. 1991. Psikologi Olahraga. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Malang Proyek Operasi Dan Perawatan Fasilitas. Malang : IKIP Malang

 

Koesnadi. 1991. Psikologi Olahraga. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Malang Proyek Operasi Dan Perawatan Fasilitas. Malang : IKIP Malang

 

Yunus, Mahmud. 1991. Psikologi Olahraga. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Malang Proyek Operasi Dan Perawatan Fasilitas. Malang : IKIP Malang

 


  1. 1. PERSIAPAN

1.1 Persiapan Guru

  • Menguasai konsep dan keterampilan materi teknik dribbling
  • Silabus, RPP dan rublik penilaian dribbling

1.2 Persiapan Lapangan

  • Mengambil Alat
  • Menyiapkan lapangan

1.3 Persiapan Alat dan Media

  • Bola sepak
  • Kun ( rintangan )
  • Peluit

 

  1. 2. PELAKSANAAN

2.1 Pendahuluan

  • Membariskan siswa
  • Menghitung jumlah siswa
  • Memimpin Doa

2.2 Menjelaskan

  • Mengenalkan dribbling bola
  • Menjelaskan tentang tehnik dribling secara verbal
  • Memberikan contoh tehnik dribbling bola (guru)
  • Menyuruh salah satu siswa yang sudah bisa untuk memberikan contoh atau mempraktekannya (Guru – Siswa)
  • Menerangkan kembali tehnik dribbling bola dengan siswa sebagai model dari gerakan
  • Membagi perhatian antara verbal dan visual
  • Jika dalam penjelasan ada yang menggangu (siswa membuat gaduh), maka akan diberi teguran
  • Bertanya kepada siswa, apakah sudah mengerti atau belum.
  • Jika belum mengerti maka guru akan memberikan pengulangan penjelasan materi dengan lebih detail dengan langsung mempraktikan atau dengan meminta bantuan kepada salah satu siswa untuk menjadi model
  • Bertanya kembali kepada siswa, apakah sudah mengerti atau belum
  • Memberi kesempatan kepada siswa untuk mempraktikan dengan siswa lain (Siswa – siswa)

 

2.3 Tanggap

  • Memperhatikan siswa yang sedang mempraktikan
  • Menegur jika ada siswa yang salah dalam melakukannya
  • Memberikan pemodelan ulang di depan siswa tersebut
  • Memberikan penguatan agar siswa tersebut tidak menyerah dan mau mencoba kembali
  • Memberi penguatan kepada siswa yang telah melakukan teknik dengan benar secara verbal atau non verbal

2.4 Menjelaskan kembali secara singkat dengan memberi penekanan terhadap tehnik dribbling menggunakan punggung kaki

  • Awalan sebelum melakukan dribling
  • Pada pelaksaan

 

2.5 Memberikan Balikan dengan menyuruh siswa mendemonstrasikan atau mempraktekkan dengan pola interaksi siswa – siswa

2.6 Menyuruh siswa turut serta dalam mengevaluasi siswa lain

2.7 Jika ada salah satu siswa tidak bisa melakukan, diharapkan untuk bertanya kepada siswa lain yang sudah bisa

2.8 Memberikan penguatan kepada pribadi tertentu dengan menyebut namanya yang mana telah bisa atau yang belum bisa melakukan tehnik dengan benar berupa penguatan verbal atau non verbal

 


  1. I. PERSIAPAN

I.1 Persiapan Guru

ü  Menguasai konsep dan keterampilan materi teknik Lay Up

ü  Silabus, RPP dan rublik penilaian Lay Up

I.2 Persiapan Lapangan

ü  Mengambil Alat

ü  Menyiapkan lapangan

I.3 Persiapan Alat dan Media

ü  Bola Basket

ü  Peluit

  1. II. PELAKSANAAN

II.1 Pendahuluan

ü  Membariskan siswa 3 sop

ü  Menghitung jumlah siswa

ü  Memimpin Doa

II.2 Menjelaskan

ü  Mengenalkan Lay Up

ü  Menjelaskan tentang tehnik Lay Up secara verbal

ü  Memberikan contoh tehnik Lay Up (guru)

ü  Menyuruh salah satu siswa yang sudah bisa untuk memberikan contoh atau mempraktekannya (Guru – Siswa)

ü  Menerangkan kembali tehnik Lay Up dengan siswa sebagai model dari gerakan

ü  Membagi perhatian antara verbal dan visual

ü  Jika dalam penjelasan ada yang menggangu (siswa membuat gaduh), maka akan diberi teguran

ü  Bertanya kepada siswa, apakah sudah mengerti atau belum.

ü  Jika belum mengerti maka guru akan memberikan pengulangan penjelasan materi dengan lebih detail dengan langsung mempraktikan atau dengan meminta bantuan kepada salah satu siswa untuk menjadi model

ü  Bertanya kembali kepada siswa, apakah sudah mengerti atau belum

ü  Memberi kesempatan kepada siswa untuk mempraktikan dengan siswa lain (Siswa – siswa)

II.3 Tanggap

ü  Memperhatikan siswa yang sedang mempraktikan

ü  Menegur jika ada siswa yang salah dalam melakukannya

ü  Memberikan pemodelan ulang di depan siswa tersebut

ü  Memberikan penguatan agar siswa tersebut tidak menyerah dan mau mencoba kembali

ü  Memberi penguatan kepada siswa yang telah melakukan teknik dengan benar secara verbal atau non verbal

II.4 Menjelaskan kembali secara singkat dengan memberi penekanan terhadap

tehnik Lay Up

ü  Awalan sebelum melakukan dribling

ü  Pada pelaksaan

II.5 Memberikan Balikan dengan menyuruh siswa mendemonstrasikan atau

mempraktekkan dengan pola interaksi siswa – siswa

II.6 Menyuruh siswa turut serta dalam mengevaluasi siswa lain

II.7 Jika ada salah satu siswa tidak bisa melakukan, diharapkan untuk bertanya

kepada siswa lain yang sudah bisa

II.8 Memberikan penguatan kepada pribadi tertentu dengan menyebut namanya

yang mana telah bisa atau yang belum bisa melakukan tehnik dengan benar

berupa penguatan verbal atau non verbal

 

Golongan darah O merupakan golongan darah paling kuno dalam sejarah manusia. Gen untuk golongan darah O berkembang pada suatu titik ketika peradaban manusia beralih dari hidup berburu dan berpindah-pindah ke komunitas agraris yang menetap di suatu tempat.

Tingkah Laku : Berenergi & tidak mudah putus asa

Masalah yang dihadapi : Kencing manis, masalah usus dan pencernaan, peredaran darah kurang baik, sakit pinggang danbelakang, kegemukan, kadar kolesterol yang tinggi, tekanan darah tinggi, kadar asam urat tinggi, penyakit kanker, gout,penyakit jantung, penyumbatan arteri.

Diet : Makanan tinggi protein & kurangi karbohidrat

Sangat Bermanfaat (makanan yang beraksi sebagai obat)
Brokoli, ubi, waluh, selada, ganggang laut, lobak china, bluberi, ceri, jambu biji, bumbu kari, kacang polong, kacang merah, semua jenis bawang, rumput laut, jahe, kailan, kunyit, Daging ( sapi, kerbau, rusa, domba, anak sapi )

Netral (makanan yang beraksi sebagai makanan)
Ikan mas, belut, lobster, ikan tuna, ikan sardine, udang, telur (ayam, bebek), mentega, kacang ( hitam, merah, buncis, kedelai ), tempe, tahu, susu kedelai, bubur gandum, beras, kue beras, roti beras, tepung gandum, terung, tomat, labu, Daging ( ayam, bebek, kambing, angsa, kalkun, kelinci )

Hindari (makanan yang beraksi sebagai racun)
Daging babi, cumi-cumi, sotong, kerang, kodok, gurita, telur (angsa, puyuh), es krim, keju, susu sapi, yoghurt(semua jenis), minyak kelapa, penyu, minyak jagung, jagung, bunga brokoli, kacang tanah, kacang mede, kuaci, laichi, kentang, mentimun, kembang kol, jamur, blewah, jeruk mandarin, pisang raja, pare, anggur putih, kecap, kopi, minuman keras

Peraturan Permainan Sepaktakraw

  1. Lapangan Sepaktakraw

Seukuran dengan lapangan badminton

Panjang    : 13,40 m

Lebar        :   6,10 m

  1. Pemain

Setiap regu terdiri dari 3 orang, 1 orang sebagai “ Tekong” dan 2 orang lainnya disebut “ Apit Kanan dan Apit Kiri”.

  1. Pakaian Pemain
  • Putera : Kaos seragam yang berlengan T-Shirt dan bersepatu karet.
  • Puteri : Kaos bundar leher, celana sebatas lutut.

Tidak diperkenankan memakai pakaian yang membahayakan lawan.

Berpakaian rapi, baju kaos T-Shirt dan wajib diselipkan/memasukkan.

Kapten harus memakai band tangan disebelah kiri.

Pakaian harus bernomor punggung, no hanya 1 -15.

  1. Pergantian Pemain

Pergantian setiap saat ketika bola mati.

Setiap regu hanya diperbolehkan sekali dalam satu set.

Pemain yang mendapat “ kartu merah” dapat diganti dengan ketentuan belum ada pergantian pemain sebelumnya.

Jika suatu regu pemainnya kurang dari 3 ( tiga),maka tidak boleh melanjutkan permainan dan regu tersebut dinyatakan kalah.

  1. Petugas Pertandingan.
  • 1 ( satu ) official referee.
  • 2 ( dua ) wasit ( wasit utama dan wasit II )
  • 6 ( enam) penjaga garis/ linesman’s ( 4 disisi lapangan dan 2 digaris belakang)
  1. Undian & Pemanasan Pemain

Sebelum permainan dimulai, wasit akan melakukan undian, siapa yang menang undian berhak memilih “ sepak mula”.

Pemanasan selama 2 ( dua) menit dan hanya ( lima ) orang saja yang diperkenankan berada di lapangan pada saat pemanasan. Terdiri dari 3 ( tiga pemain) dan pelatih.

  1. Posisi pemain pada waktu servis.

Dalam melakukan sepakmula, salah satu dari kaki tekong berada dalam lingkaran untuk melakukan sepakmula.

Kedua pemain apit yang melakukan servis, harus berada dalam seperempat lingkaran.

Lawan bebas bergerak didalam lapangan sendiri.

  1. Kesalahan ( Batal )
  • Kesalahan dipihak servis.
    • Apit sebagai pelambung masih memainkan bola.
    • Apit mengangkat kaki, menginjak garis, menyentuh atau melewati bawah net ketika melakukan lambung bola.
    • Tekong tidak menyepak bola yang dilambungkan kepadanya.
    • Bola menyentuh salah seorang pemain ( teman sendiri) sebelum bola melewati net.
    • Bola jatuh diluar lapangan.
    • Bola tidak melewati net.
    • Tekong saat menyepak sambil melompat.
  • Kesalahan pihak penerima
    • Berusaha mengalihkan perhatian lawan atau bersuara keras terhadap lawan.
  • Kesalahan kedua pihak
    • Ada pemain yang mengambil bola di lapangan lawan
    • Ada pemain ataupun perlengkapan yang melewati lapangan lawan
    • Mempermainkan bola lebih dari 3 ( tiga ) kali
    • Bola mengenai tangan
    • Menahan/menjepit bola diantara lengan dan badan, dua kaki atau badan.
    • Bola mengenai loteng/ atap atau dinding pembatas ( objek lainnya)
    • Ada pemain sengaja memperlambat permainan yang tidak perlu.
  1. Acara Perhitungan Angka

Angka/ poin diberikan kepada regu yang mematikan bola atau lawan membyat kesalahan.

10.  Cara Perhitungan Angka

Bilamana pihak penerima servis atau pihak melakukan servis membuat kesalahan, angka diberikan pihak lawan sekaligus melakukan sepak mula berikutnya.

Angka kemenangan tiap set adalah 21, kecuali pada posisi angka 20-20, wasit menyebut “ Setting Up 25 Point”

Pertandingan dimainkan dalam 2 set dengan diselingi istirahat 2 menit.

Apabila tiap regu memenangkan satu set, permainan dilanjutkan pada set ke 3 dissebut “ Tiebreak” dengan angka 15, kecuali kalau angka 14-14, wasit menyebut “ Setting” 17 point.

Sebelum set tiebreak, wasit II akan melakukan toss, undian dan pemenang toss berhak memilih servis.

Terjadi pertukaran tempat ketika salah satu regu mencapai angka 8.

11.  Penghentian Permainan Sementara

Karena gangguan cuaca atau ada pemain cedera dengan waktu tidak lebih dari 5 menit.

Apabila lebih dari 5 menit pemain tidak dapat melanjutkan sepanjang belum diadakan pergantian pemain dapat dilakukan sepanjang belum diadakan pergantian pemain sebelumnya.

 

 

 

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.